SEARCH

Showing posts with label Filosofi Arsitektur Balla Lompoa. Show all posts
Showing posts with label Filosofi Arsitektur Balla Lompoa. Show all posts

ARSITEKTUR RUMAH TORAJA

Sebenarnya saya tidak menguasai topik ini, tetapi tak ada salahnya mengajak anda semua menengok arsitektur ini. Semoga menginspirasi !!!



Tana Toraja di Sulawesi Selatan telah dikenal dunia seperti orang mengetahui Bali yang lebih ternama ketimbang negara Indonesia. Atmosfer kultural di Tana Toraja - tempat pemukiman suku Toraja-yang kuat membuat wisatawan menikmati sensasi dan pesona berbeda. Kita akan menemukan banyaknya wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Tana Toraja, tetapi mayoritas berpenampilan lebih serius dan intelektual. Toraja ternyata sangat menarik bagi peneliti dan antropolog dari dalam dan luar negeri untuk dijadikan bahan tesis atau disertasi mereka.

LIVING CULTURE.
Harus disadari bahwa Tana Totara memiliki potensi dan peluang besar untuk eco-tourism, sebuah wacana wisata yang lebih mengutamakan pelestarian alam dan budaya. Salah satu aspek pesona sangat menraik adalah arsitektur Toraja yang menawarkan banyak keragaman teknik dan nilai artistik tinggi.

Kehidupan suku dalam bahasa bugis disebut "To Riaja"-orang yang hidup di negeri atas atau pengunungan-ini memang memiliki tradisi dan ikatan kosmologi yang kuat dari kelahiran, kehidupan dan kematian. Semua dirayakan dan diperingati dengan berbagai peristiwa adat. Eksistensi budaya dan tradisi ini masih tetap lestrai dalam kesatuan yang tidak terpisahkan antara kehidupan sehari-hari, upcara ritual dan arsitektur bangunan rumah suku Toraja.

ORNAMENT
Segala kegiatan, ritual, dan benda-benda yang hadir selalu punya makna mendalam lebih dari hanya sekedar fungsional. Kedalaman ikatan emosi dan filosofi begitu kental hadir dalam tradisi yang ada. Seperti rumah tinggal mereka yang disebut tongkonan dari kata "Tongkon" berarti duduk bersama-sama. Eksistensi tongkonan hingga kini layak kita hargai sebagai keteguhan memegang adat, tradisi dan kearifan lokal yang begitu berharga.

Bangunan yang memiliki tata letak berorientasi utara-selatan dengan pintu utama di utara ini mengambil filosofi "perahu yang mengarungi lautan luas kehidupan". Dengan konstruksi "knock down" yang sangat rumit dan cerdas, tongkonan dirancang sebagai rumah panggung dari kayu-kolong di bawah diapaki sebagai kandang kerbau-dan konstruksi tahan gempa. Arah orientasi bangunan yang memiliki makna ini secara garis besar menggambarkan keseimbangan. Makna dan filosofi arah bangunan ini kemudian disimbolkan melalui ukiran-ukiran kayu dan ornamen yang menghiasi seluruh rumah.

Seperti elemen tanduk kerbau yang menggambarkan status sosial dan berhubungan juga dengan fase kematian dalam hidup. Selain itu terdapat ukiran kayu yang selalu menyimbolkan kebaikan dengan menggunakan empat warna dasar hitam (kematian), kuning (anugerah dan kekuasaan ilahi), putih (suci) dan merah (kehidupan manusia). Keempat warna ini juga merepresentasikan kepercayaan asli suku Toraja yaitu aluk to dolo.

Ukiran yang menjadi ornamen tongkonan ini kemudian tidak hanya menjadi representasi tingginya nilai seni, artistik dan manifesto budaya terutama sosial dan religi. Dengan mengambil inspirasi dari alam, motif ukiran merupakan abstraksi dan geometris dari binatang dan tumbuhan dalam tatanan yang berulang. Di sinilah ornamen tidak hanya artistik secara visual, tetapi maknanya membentuk cerita, do'a dan apresiasi pemilik terhadap kehidupan.

Ornamen akhirnya hanya sebuah bagian kecil dari pesona arsitektur Toraja dari living culture yang masih terjaga. Keseimbangan hidup yang dielaborasi dalam simetris, keterikatan dan berorientasi seharusnya bisa terus digali untuk menginspirasi perkembangan arsitektur masa kini.

CONSERVE
Saat ini modernisasi semakin lama merambah dalam keseharian masyarakat Toraja dan sedikit demi sedikit mengubah pola pikir masyarakat tradisional menjadi modern, serba praktis dan terbuka terhadap seni budaya dari luar. Sayangnya banyak pemahaman salah kaprah dalam mewujudkan modernisasi, seperti perubahan material atap rumah tongkonan dan persilangan antara rumah panggung tradisional dengan landed house. Saat ini banyak ditemui rumah modern beratap seng yang kemudian menghasilkan generasi arsitektur Toraja yang semakin kehilangan identitas. Semakin mendekati pusat kota rumah tradisional Toraja sedikit demi sedikit mulai kehilangan jiwanya, sementara jauh dari pusat kota semakin banyak ditemukan bangunan yang masih menjaga nilai dan jiwa arsitektur Toraja sebagai living culture yang terjaga keasliannya.

FILOSOFI ARSITEKTUR BALLA LOMPOA






Museum Balla Lompoa merupakan rekonstruksi dari istana Kerajaan Gowa yang didirikan pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-31, I Mangngi-mangngi Daeng Matutu, pada tahun 1936. Dalam bahasa Makassar, Balla Lompoa berarti rumah besar atau rumah kebesaran. Arsitektur bangunan museum ini berbentuk rumah khas orang Bugis Makassar, yaitu rumah panggung, dengan sebuah tangga setinggi lebih dari dua meter untuk masuk ke ruang teras. Seluruh bangunan terbuat dari kayu ulin atau kayu besi. Bangunan ini berada dalam sebuah komplek seluas satu hektar yang dibatasi oleh pagar tembok yang tinggi.


Bangunan museum ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu ruang utama seluas 60 x 40 meter dan ruang teras (ruang penerima tamu) seluas 40 x 4,5 meter. Di dalam ruang utama terdapat tiga bilik, yaitu: bilik sebagai kamar pribadi raja, bilik tempat penyimpanan benda-benda bersejarah, dan bilik kerajaan. Ketiga bilik tersebut masing-masing berukuran 6 x 5 meter. Bangunan museum ini juga dilengkapi dengan banyak jendela (yang merupakan ciri khas rumah Bugis) yang masing-masing berukuran 0,5 x 0,5 meter.

Museum ini berfungsi sebagai tempat menyimpan koleksi benda-benda Kerajaan Gowa. Benda-benda bersejarah tersebut dipajang berdasarkan fungsi umum setiap ruangan pada bangunan museum. Di bagian depan ruang utama bangunan, sebuah peta Indonesia terpajang di sisi kanan dinding. Di ruang utama dipajang silsilah keluarga Kerajaan Gowa mulai dari Raja Gowa I, Tomanurunga pada abad ke-13, hingga Raja Gowa terakhir Sultan Moch Abdulkadir Aididdin A. Idjo Karaeng Lalongan (1947-1957). Di ruangan utama ini, terdapat sebuah singgasana yang di letakkan pada area khusus di tengah-tengah ruangan. Beberapa alat perang, seperti tombak dan meriam kuno, serta sebuah payung lalong sipue (payung yang dipakai raja ketika pelantikan) juga terpajang di ruangan ini.

Museum ini pernah direstorasi pada tahun 1978-1980. Hingga saat ini, pemerintah daerah setempat telah mengalokasikan dana sebesar 25 juta rupiah per tahun untuk biaya pemeliharaan secara keseluruhan.




Keistimewaan museum Balla Lompoa menyimpan koleksi benda-benda berharga yang tidak hanya bernilai tinggi karena nilai sejarahnya, tetapi juga karena bahan pembuatannya dari emas atau batu mulia lainnya. Di museum ini terdapat sekitar 140 koleksi benda-benda kerajaan yang bernilai tinggi, seperti mahkota, gelang, kancing, kalung, keris dan benda-benda lain yang umumnya terbuat dari emas murni dan dihiasi berlian, batu ruby, dan permata. Di antara koleksi tersebut, rata-rata memiliki bobot 700 gram, bahkan ada yang sampai atau lebih dari 1 kilogram. Di ruang pribadi raja, terdapat sebuah mahkota raja yang berbentuk kerucut bunga teratai (lima helai kelopak daun) memiliki bobot 1.768 gram yang bertabur 250 permata berlian. Di museum ini juga terdapat sebuah tatarapang, yaitu keris emas seberat 986,5 gram, dengan pajang 51 cm dan lebar 13 cm, yang merupakan hadiah dari Kerajaan Demak. Selain perhiasan-perhiasan berharga tersebut, masih ada koleksi benda-benda bersejarah lainnya, seperti: 10 buah tombak, 7 buah naskah lontara, dan 2 buah kitab Al Quran yang ditulis tangan pada tahun 1848.

Lokasi 
Museum Balla Lompoa berada di Jalan Sultan Hasanuddin No. 48 Sungguminasa, Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Akses 
Museum ini terletak di Kota Sungguminasa yang berbatasan langsung dengan Kota Makassar. Perjalanan dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi dan angkutan umum, baik roda empat maupun roda dua.